Minggu, 13 September 2015

Sejarah Bola Lampu (Thomas Alva Edison)

ORIENTASI
Usaha mencari sumber cahaya buatan itu sendiri sudah dimulai jauh sebelumnya. Dalam catatan sejarah, terdapat lebih dari dua puluh ilmuwan yang pernah meneliti cara menciptakan bola lampu pijar sejak awal abad ke-19. Pada masa itu, hasil penemuan mereka belum menggembirakan. Lampu yang dihasilkan hanya mampu bertahan sebentar dan memerlukan arus listrik besar serta biaya pembuatan yang tinggi. Ini menyebabkan bola lampu pijar masih sulit untuk diproduksi secara massal.

PERIODESASI TAHAP 1
Kemudian Thomas Alva Edison berhasil membuat bola lampu pijar yang dapat menyala cukup lama, 13,5 jam. Bahkan, beberapa bulan kemudian, dia memperbaiki temuannya hingga mampu bertahan 1200 jam. Pada 4 November 1879 dia mendaftarkan penemuannya ini dengan paten Amerika Serikat nomor 223.898 (disahkan pada 27 Januari 1880). Paten yang didaftarkan adalah lampu listrik yang menggunakan seutas karbon atau lempeng karbon yang dipelintir dan dihubungkan dengan kawat platina.

PERIODESASI TAHAP 2
Bola lampu pijar ini memiliki tingkat kehampaan udara yang lebih baik dan daya tahan lebih tinggi sehingga dapat dipakai di banyak tempat. Penemuan ini juga mendorong berkembangnya jaringan listrik hingga ke rumah penduduk. Mulai hari itu, bola lampu pijar menjadi bagian dari hidup manusia. Manusia menggunakannya untuk lampu di rumah, penerangan di jalan, senter maupun lampu mobil. Dunia pun berubah. Perlahan-lahan lilin dan lampu minyak diganti dengan bola lampu pijar.

PERIODESASI TAHAP 3
Penemuan bola lampu pijar sangat fenomenal dan tak asing bagi kita. Hingga saat ini kita sering membaca atau mendengar guru, motivator atau pembicara mengenang peristiwa penemuan ini, khususnya ketika memberi semangat kepada orang lain agar tidak mudah menyerah. Kita sering mendengar kalimat seperti, “Berapa kali Thomas Alva Edison gagal sebelum menemukan bola lampu pijar?”

PERIODESASI TAHAP 4
Jawabannya pun bermacam-macam. Ada yang mengatakan Thomas Alva Edison mencoba 999 kali. Baru pada kali ke-1000 dia berhasil. Bahkan di internet, kita dapat menemukan sangat banyak versi, ada yang menyebut 300, 700, 999, 1000, 2000, 3000, 5000, 10.000, bahkan 20.000. Tidak jelas mana yang benar.



PERIODESASI TAHAP 5
Seorang kontributor di salah satu media yang cukup terpandang, Forbes, mengutip kata-kata Thomas Alva Edison sebagai berikut:
“I have not failed 10,000 times. I have not failed once. I have succeeded in proving that those 10,000 ways will not work. When I have eliminated the ways that will not work, I will find the way that will work.”
“Saya bukan gagal 10.000 kali. Saya tidak gagal satu kali pun. Saya berhasil membuktikan bahwa ada 10.000 cara yang keliru. Ketika saya telah mengetahui cara-cara yang keliru, akhirnya saya akan menemukan sebuah cara yang benar.”

PERIODESASI TAHAP 6
Dengan begitu banyaknya paten yang dihasilkan oleh Thomas Alva Edison (2332 paten dalam berbagai penemuan), saya percaya dia tidak bicara secara harafiah melakukan 10.000 kali kegagalan dalam usaha menemukan bola lampu pijar. Bahkan, saya tidak yakin dia menghitung dengan persis berapa kali dia mencoba. Yang jelas, dia melakukannya dengan usaha yang keras dan terus-menerus hingga akhirnya berhasil.

PERIODESASI TAHAP 7
Usaha dan ketekunan Thomas Alva Edison tidak sia-sia. Kini seluruh dunia dapat menikmati “siang yang lebih panjang” berkat penemuannya, meskipun kini bola lampu pijar mulai digantikan oleh lampu hemat energi, dan dalam perkembangan terakhir muncul lampu LED.

REORIENTASI

Kita patut bersyukur zaman ini kita memiliki sumber cahaya buatan yang membuat hidup lebih mudah dan nyaman. Dunia yang terang benderang saat ini dapat membuat kita terlena dan melupakan arti pentingnya penemuan ini. Mungkin kita baru menyadarinya ketika listrik padam. Mungkin kita juga patut bersyukur bahwa kondisi listrik di Indonesia yang umumnya masih byar-pet justru membuat kita makin menghargai karya Thomas Alva Edison ini.

SEJARAH HARI PAHLAWAN 10 NOVEMBER SURABAYA


 ORIENTASI
Hari Pahlawan 10 November 1945 merupakan peringatan tahunan untuk memperingati Pertempuran Surabaya, dimana pasukan-pasukan pro kemerdekaan Indonesia bersama para milisi bertempur melawan pasukan Inggris dan Belanda sebagai bagian dari Revolusi Nasional Indonesia. Sejarah Peringatan Hari Pahlawan Nasional 10 November 1945 tidak akan dimulai jika pada tanggal 17 Agustus tahun 1945, Soekarno dan Hatta tidak mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta 2 hari setelah menyerahnya kekaisaran Jepang pada perang Pasifik.
PERIODESASI TAHAP 1
Berita tentang kemerdekaan ini kemudian menyebar ke seluruh kepulauan, membuat masyarakat Indonesia merasakan sebuah kebebasan dimana mereka kemudian menjadi pro-republik. Dalam beberapa minggu setelah itu, terjadi sebuah kekosongan kekuatan baik dari luar maupun dalam Indonesia.

PERIODESASI TAHAP 2
Pada tanggal 19 September 1945 pasukan Belanda yang dibantu oleh beberapa pasukan Jepang untuk menaikkan bendera Belanda di luar Hotel Yamato. Hal ini membuat tentara milisi Indonesia murka, dimana mereka menghabisi pasukan gabungan kecil milik Belanda dan Jepang demi merobek bagian biru dari bendera Belanda tersebut. Karena kekacauan ini, salah satu pemimpin kelompok Belanda yang bernama Mr Ploegman ikut terbunuh.
PERIODESASI TAHAP 3
Perang Surabaya yang nantinya akan menuliskan sejarah Hari Pahlawan Nasional 10 November 1945 sudah menyalakan api kecilnya ketika seorang Komandan senior Jepang di Surabaya yang bernama Shibata Yaichiro memutuskan untuk mendukung Republik dan menyatakan bahwa ia siap membantu Indonesia dengan suplai persenjataan. Sayangnya pada tanggal 3 Oktober Shibata menyerah kepada kapten AL Belanda, dimana ia kemudian memerintahkan tentaranya untuk memberikan senjata mereka yang tersisa kepada rakyat Indonesia. 

PERIODESASI TAHAP 4

Pertempuran Surabaya yang melatar belakangi sejarah Hari Pahlawan Nasional 10 November 1945 memasuki babak baru pada tanggal 26 Oktober 1945 saat A.W.S. Mallaby mencapai sebuah kesepakatan dengan Mr Suryo yang saat itu menjadi gubernur Jawa Timur bahwa tentara Inggris tidak akan menyuruh tentara atau milisi Indonesia untuk menyerahkan senjata mereka.
PERIODESASI TAHAP 5
Pada tanggal 27 Oktober 1945 dimana sebuah pesawat milik Inggris dari Jakarta menyebarkan selebaran di atas Surabaya yang memaksa para tentara dan milisi Indonesia untuk menyerahkan senjata mereka. Hal ini membuat geram pemimpin tentara dan milisi Indonesia karena dinilai sebagai pelanggaran akan perjanjian yang telah dibuat oleh Mallaby.

PERIODESASI TAHAP 6
Pada tanggal 28 Oktober, serangan terhadap tentara Inggris dilancarkan di Surabaya dan menewaskan sekitar 200 prajurit. Karena hal inilah, pihak Inggris menerbangkan Soekarno, Hatta, dan Amir Syarifuddin Harahap untuk bernegosiasi tentang gencatan senjata. Bahkan setelah gencatan senjata disepakati kedua pihak, pertempuran kembali berlanjut karena masalah komunikasi dan kedua pihak yang saling tidak percaya satu sama lain.
PERIODESASI TAHAP 7
Pada tanggal 30 Oktober 1945, A.W.S Mallaby sedang melakukan perjalanan ke Surabaya dengan tujuan menyebarkan berita tentang persetujuan gencatan senjata kepada tentaranya. Ketika mobilnya mulai mendekati pos tentara Inggris di gedung Internasional dekat Jembatan Merah, tiba-tiba sekelompok milisi Republik Indonesia mengepungnya dan menembak Mallaby. R.C. Smith yang melihat kejadian ini melempar granat dari mobilnya ke arah dimana ia kira penembaknya bersembunyi.
PERIODESASI TAHAP 8
Philip Christison yang saat itu menjabat sebagai Letnan Jendral murka luar biasa ketika mendengar Mallaby tewas di Surabaya. Karena hal ini, pihak Inggris mengirimkan pasukan tambahan yang dipimpin oleh Mayor Jendral Robert Masergh bersama Sherman dan tank Stuart, 2 cruiser dan 3 kapal penghancur sebagai pendukung.

PERIODESASI TAHAP 9
Pada tanggal 10 November, pasukan Inggris mulai maju secara metodikal di sepanjang kota dengan menggunakan bombardir laut dan udara sebagai pelindung mereka. Terlepas dari perjuangan rakyat Indonesia yang luar biasa, hampir seluruh kota Surabaya berhasil diduduki dan pertempuran diakhiri setelah tiga minggu pada 29 November. Pertempuran tersebut mengambil nyawa 6.300 hingga 15.000 tentara Indonesia dan perkiraan 200.000 orang yang kabur dari kota tersebut sementara Inggris hanya 600 jiwa.
REORIENTASI
Karena pertempuran Surabaya ini, pihak internasional melihat bahwa kelompok milisi dan tentara Indonesia tidak boleh diremehkan, karena tentara yang paling menakutkan ialah tentara yang tak lagi takut mati, tepat seperti tentara-tentara Indonesia yang bertempur. Mengingat pertempuran ini sangat besar, pada tahun 2013 ada sebuah film Indonesia berjudul Sang Kiai yang menunjukkan bagian awal dari perang yang menuntun pada sejarah Hari Pahlawan Nasional 10 November 1945 ini.